Call for Entry The Festival Film Dokumenter Indonesia is accepting documentaries until August 25th, 2019. Here you can find more information about their Call for Entry. About the festival Festival Film Dokumenter FFD is an annual event held by Forum Film Dokumenter, a non-profit organization based in Yogyakarta, focusing on documentary film research and archiving, as well as film appreciation for educational purposes. General Rules – The festival accepts feature-length over 40 minutes documentaries from Indonesian and foreign filmmakers; and Short Documentaries under 40 minutes from Indonesia High Schoolers are also able to submit. – Feature-length documentaries should have been produced between 2017 – 2019 for International filmmakers, and between 2018-2019 for Indonesian filmmakers. – Short Indonesian documentaries should have been produced between 2018-2019. – Students are welcome to submit as long as the director/s and the film crew are students, from junior to high school or equal during the production year of the film. The submitting person should send the student card or any copy of official document legalized by school that proven their status as an active student. – Film of any language including English must include English subtitle. – Important Film submitted to the festival will be archived by Forum Film Dokumenter for non-profit activities and educational purposes. Filmmaker will be informed for any activities involving the film outside this year’s festival timeline. Any screenings will be done with prior permission from the filmmaker. – Submission Fee FREE – Deadline August 25th, 2019 To submit to the festival and read the Rules & Regulations please follow the next link We remind readers that the 2019 Festival Film Dokumenter will take place from December 1st – 7th, 2019 in Yogyakarta, Indonesia. To see other Call for Entries please go to our section “Call for Entries”
FestivalFilm Dokumenter 2020 In Touch. Not currently available. Play trailer. Expired December 14, 2020 6:15 AM. Ini adalah sebuah film tentang masyarakat yang terisolasi. Ketika suatu desa kecil di Polandia ditelantarkan oleh seluruh pemudanya yang merantau ke Islandia, generasi tua mau tidak mau harus beradaptasi dengan panggilan VoIP
News The Festival Film Dokumenter FFD along with the Yamagata International Documentary Film Festival YIDFF will organize a Film Criticism Collective Workshop during the 2018 Festival Film Dokumenter December 5th – 12th in Yogyakarta, Indonesia. The deadline is October 22nd so hurry up and send your applications! About the workshop Film Criticism Collective Workshop will provide training in critical framework and incisive writing about documentary cinema, while offering immersion in the lively atmosphere of an international film festival. Participants will also attend film screenings during the festival to later; write about them for regular tasks and discussions with mentors and fellow participants. Moreover, participants will have the opportunity to attend the public lectures organized by FFD, which mainly focus on contemporary issues regarding documentary developments and film festivals in South East Asia and even Asia. How to apply – The submission is open for participants from Japan and South East Asian Countries. – Participants must be able to attend the workshop during FFD 2018 from December 6th –11th. – Flight return and accommodation during workshop will be covered for all selected participants from Southeast Asian Countries and Japan. – Participants must be capable to write and engage in discussions in English – Application must be done via website here – Deadline October 22nd, 2018 MENTORS Chris Fujiwara, a film critic and programmer. Chris has written and edited several books on cinema and has contributed to numerous anthologies and journals. He was formerly Artistic Director of Edinburgh International Film Festival, and he has also developed film programs for Athénée Français Cultural Center Tokyo, Jeonju International Film Festival, Sydney Film Festival, Mar del Plata Film Festival, and other institutions. He has lectured on film aesthetics and film history at Tokyo University, Yale University, Temple University, Emerson College, Rhode Island School of Design, and elsewhere. He has organized or served as a mentor for film criticism workshops at YIDFF, the Berlinale, Melbourne International Film Festival, the International Film Festival of Kerala, and Salamindanaw Asian Film Festival. Adrian Jonathan Pasaribu, born in Pasuruan in 1988, is the co-founder of Cinema Poetica — a collective of film critics, journalists and activists in Indonesia. Established in 2010, Cinema Poetica focuses on knowledge production and distribution as a response to the lack of film literature in Indonesia. The collective publishes their works in and regularly organizes film criticism workshops for students. Adrian has developed film programs for several film festivals and screening spaces in Indonesia. From 2007 to 2010, he worked as the program manager of Kinoki, an alternative screening space in Yogyakarta. Since then Adrian has developed film programs for several screening spaces and film festivals, namely Festival Film Dokumenter, Jogja-NETPAC Asian Film Festival, ARKIPEL International Documentary & Experimental Film Festival, and Singapore International Film Festival. Currently, he is researching about the historical unknowns of Indonesian cinema. About Film Criticism Collective Founded in Japan in 2015, the Film Criticism Collective is intended to develop and encourage film criticism, to facilitate interaction among critics of different countries, and to make the writing of East Asian critics more accessible in English. The main activity of FCC is the Film Criticism Workshop, which is held every two years at the Yamagata International Documentary Film Festival, with the support of the Japan Foundation Asia Center. FCC also held a Film Criticism Workshop at Salamindanaw Asian Film Festival in General Santos, Philippines, in 2016.
EdSheeran mendokmentasikan perjalanan bermusiknya dalam film pendek berjudul Songwriter. Film ini diputar dalam Festival Film Berlin 2018.
Tahun ini, Program Kompetisi Festival Film Dokumenter kembali menyajikan film-film unggulan, hasil seleksi dari berbagai negara untuk kategori film Dokumenter Panjang, dan tentu saja keragamaan dari berbagai film dokumenter Indonesia dalam kategori Dokumenter Pendek dan Dokumenter Pelajar. Setiap tahun, film – film yang masuk ke Program Kompetisi kian beragam, baik secara konten maupun bentuk – bentuk yang digunakan dalam karya para peserta. Selain itu, tema – tema yang diangkat sangat bervariasi, mulai dari hal-hal yang sederhana dan dekat dengan keseharian, hingga berbagai permasalahan sosial politik yang aktual. Kami menerima 43 Film Kategori Dokumenter Panjang Internasional, 85 Film Kategori Dokumenter Pendek, dan 24 Film Kategori Dokumenter Pelajar. FFD selalu mencari film-film yang bisa secara kritis menanggapi hal-hal sederhana yang ada di sekitar kita, yang diharapkan bisa menjadi bahan refleksi untuk peonton serta menjadi pintu masuk untuk membicarakan isu yang lebih besar. Selain itu dibutuhkan juga kecakapan filmmaker untuk mengemas isu-isu tersebut kedalam bentuk penceritaan, sehingga bisa juga dinikmati penonton sebagai sebuah bentuk karya seni. Pengemasan yang kreatif ini juga menjadi pertimbangan dalam memilih film-film finalis dibawah ini. Sandeep Ray Sebelum mengajar di SUTD-HASS, Sandeep pernah mengajar di University of Wisconsin 2015-2016, dan seorang Luce Postdoctoral Fellow di Rice University 2016-2017. Filmnya sudah pernah diulas di The American Anthropologist and the Journal for Visual Anthropology dan pernah diputar di beberapa festival, seperti di Busan BIFF, Taiwan TIDF, Sydney, Paris Jean Rouch, Tehran IIFF, Copenhagen DOX, dan masuk dalam kurasi the Flaherty Seminar, the Margaret Mead Festival, the Films Division of India, the Asia Research Institute NUS, dan the Whitney and Getty Museums. Anna Har Anna Har adalah direktur FreedomFilmFest, sebuah festival film HAM internasional di Malaysia. Ia adalah ketua Freedom Film Network, sebuah organisasi yang mempromosikan dan mendukung pembuatan film-film bertema sosial. Anna belajar visual antropologi dan telah bekerja di bidang HAM selama 20 tahun. Ia masih terus berkarya sebagai sutradara dan produser di Big Pics Production miliknya. Ronny Agustinus Ronny Agustinus adalah salah satu pendiri Ruang Rupa. Sejak 2005 hingga sekarang, ia mengelola penerbit Marjin Kiri. Ia pernah menjadi kurator sesi Amerika Latin untuk ARKIPEL Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival 2014-2016, juri ARKIPEL 2014-2015, juri dokumenter panjang Festival Film Dokumenter 2015 Yogyakarta, dan juri Psychology Film Festival 2016 Surabaya. Thomas Barker Thomas Barker adalah Asisten Professor Film dan Televisi di University of Nottingham Kampus Malaysia. Ia pernah menjadi mahasiswa tamu di UCLA, UI, dan The National University of Singapore serta pernah menjadi mahasiswa di UGM, Yogyakarta. Selain itu, ia juga pernah menulis di beberapa media, antara lain untuk Cinema Poetica, The Jakarta Post, Rumah Film, dan Asian Cinema. Akhir-akhir ini ia turut menjadi co-producer dan menarasikan dokumenter delapan bagian yang dibuat untuk BFM Radio Kuala Lumpur, Malaysia. Vivian Idris Pembuat film otodidak yang misinya adalah menggunakan medium audio-visual sebagai alat untuk edukasi, pelestarian budaya, mengakselerasi pergerakan sosial, dan sebagai salah satu cara berkontribusi kembali ke masyarakat. Vivian juga aktif berpartisipasi di festival-festival lokal di Indonesia sebagai juri Festival Film Indonesia, Anti Corruption Film Festival, XXI Short Film Festival, Festival Film Surabaya, Festival Film Dokumenter, Eagle Academy, UCIFEST 7, Festival Video Edukasi dan membuat workshop pembuatan film dokumenter. Antariksa Antariksa adalah peneliti dan anggota pendiri KUNCI Cultural Studies Center, Yogyakarta. Dia kini menjadi peneliti tamu pada Global Souths du Collège d’études mondiales/Fondation Maison des sciences de l’homme FMSH, Paris, dan Associate Fellow pada the Institute of Southeast Asian Studies ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapura. Steve Pilar Setiabudi Pillar lahir di Solo, Indonesia. Ia lulus dari jurusan desain grafis di Yogyakarta tahun 1997. Sejak saat itu, ia aktif berkegiatan dalam beberapa produksi film dokumenter. Saat ini ia tengah bekerja di Artifact Media, di mana ia aktif memproduseri dan menyutradarai film-film dokumenter. Jason Iskandar Jason Iskandar lahir di Jakarta pada tahun 1991. Ia mulai membuat film pada usia 17 tahun di workshop dan kompetisi film dokumenter Think Act Change, di mana filmnya yang berjudul Sarung Petarung memenangkan tiga penghargaan. Film dokumenternya yang berjudul Indonesia Bukan Negara Islam memenangkan penghargaan film terbaik kategori pelajar pada Festival Film Dokumenter 2009. Saat ini ia sedang mempersiapkan film panjang pertamanya. Irfan R. Darajat Lahir di Purbalingga, 22 Oktober 1988. Ia menamatkan pendidikan S1 Jurusan Politik dan Pemerintahan tahun 2012 dan melanjutkan studi S2 Kajian Budaya dan Media di UGM pada tahun 2013 hingga sekarang. Salah satu anggota kelompok peneliti musik dan masyarakat “Laras”. Juri Kategori PanjangJuri Kategori PendekJuri Kategori Pelajar Juri Kategori Panjang Sandeep Ray Sebelum mengajar di SUTD-HASS, Sandeep pernah mengajar di University of Wisconsin 2015-2016, dan seorang Luce Postdoctoral Fellow di Rice University 2016-2017. Filmnya sudah pernah diulas di The American Anthropologist and the Journal for Visual Anthropology dan pernah diputar di beberapa festival, seperti di Busan BIFF, Taiwan TIDF, Sydney, Paris Jean Rouch, Tehran IIFF, Copenhagen DOX, dan masuk dalam kurasi the Flaherty Seminar, the Margaret Mead Festival, the Films Division of India, the Asia Research Institute NUS, dan the Whitney and Getty Museums. Anna Har Anna Har adalah direktur FreedomFilmFest, sebuah festival film HAM internasional di Malaysia. Ia adalah ketua Freedom Film Network, sebuah organisasi yang mempromosikan dan mendukung pembuatan film-film bertema sosial. Anna belajar visual antropologi dan telah bekerja di bidang HAM selama 20 tahun. Ia masih terus berkarya sebagai sutradara dan produser di Big Pics Production miliknya. Ronny Agustinus Ronny Agustinus adalah salah satu pendiri Ruang Rupa. Sejak 2005 hingga sekarang, ia mengelola penerbit Marjin Kiri. Ia pernah menjadi kurator sesi Amerika Latin untuk ARKIPEL Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival 2014-2016, juri ARKIPEL 2014-2015, juri dokumenter panjang Festival Film Dokumenter 2015 Yogyakarta, dan juri Psychology Film Festival 2016 Surabaya. Juri Kategori Pendek Thomas Barker Thomas Barker adalah Asisten Professor Film dan Televisi di University of Nottingham Kampus Malaysia. Ia pernah menjadi mahasiswa tamu di UCLA, UI, dan The National University of Singapore serta pernah menjadi mahasiswa di UGM, Yogyakarta. Selain itu, ia juga pernah menulis di beberapa media, antara lain untuk Cinema Poetica, The Jakarta Post, Rumah Film, dan Asian Cinema. Akhir-akhir ini ia turut menjadi co-producer dan menarasikan dokumenter delapan bagian yang dibuat untuk BFM Radio Kuala Lumpur, Malaysia. Vivian Idris Pembuat film otodidak yang misinya adalah menggunakan medium audio-visual sebagai alat untuk edukasi, pelestarian budaya, mengakselerasi pergerakan sosial, dan sebagai salah satu cara berkontribusi kembali ke masyarakat. Vivian juga aktif berpartisipasi di festival-festival lokal di Indonesia sebagai juri Festival Film Indonesia, Anti Corruption Film Festival, XXI Short Film Festival, Festival Film Surabaya, Festival Film Dokumenter, Eagle Academy, UCIFEST 7, Festival Video Edukasi dan membuat workshop pembuatan film dokumenter. Antariksa Antariksa adalah peneliti dan anggota pendiri KUNCI Cultural Studies Center, Yogyakarta. Dia kini menjadi peneliti tamu pada Global Souths du Collège d’études mondiales/Fondation Maison des sciences de l’homme FMSH, Paris, dan Associate Fellow pada the Institute of Southeast Asian Studies ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapura. Juri Kategori Pelajar Steve Pilar Setiabudi Pillar lahir di Solo, Indonesia. Ia lulus dari jurusan desain grafis di Yogyakarta tahun 1997. Sejak saat itu, ia aktif berkegiatan dalam beberapa produksi film dokumenter. Saat ini ia tengah bekerja di Artifact Media, di mana ia aktif memproduseri dan menyutradarai film-film dokumenter. Jason Iskandar Jason Iskandar lahir di Jakarta pada tahun 1991. Ia mulai membuat film pada usia 17 tahun di workshop dan kompetisi film dokumenter Think Act Change, di mana filmnya yang berjudul Sarung Petarung memenangkan tiga penghargaan. Film dokumenternya yang berjudul Indonesia Bukan Negara Islam memenangkan penghargaan film terbaik kategori pelajar pada Festival Film Dokumenter 2009. Saat ini ia sedang mempersiapkan film panjang pertamanya. Irfan R. Darajat Lahir di Purbalingga, 22 Oktober 1988. Ia menamatkan pendidikan S1 Jurusan Politik dan Pemerintahan tahun 2012 dan melanjutkan studi S2 Kajian Budaya dan Media di UGM pada tahun 2013 hingga sekarang. Salah satu anggota kelompok peneliti musik dan masyarakat “Laras”. FILM FINALIS All CategoryDokumenter PanjangDokumenter PendekDokumenter Pelajar
Thesecond Papuan independent Film Festival - Festival Films Papua (FFP-II) was launched on August 7, 2018 at the hall of the State Museum of Papua at Expo Waena, Jayapura, Papua province, Indonesia. About 400 hundred people were present during the opening session at the Expo Waena, Jayapura, Papua province, Indonesia, and about 300 people came on each of the following days.
› Utama›Festival Film Dokumenter,... OlehNINO CITRA ANUGRAHANTO 2 menit baca KOMPAS/NINO CITRA ANUGRAHANTO Sejumlah pengunjung sedang bercakap-cakap seusai menonton film pertama yang diputar dalam pembukaan Festival Film Dokumenter, di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta, Rabu 5/12/2018.YOGYAKARTA, KOMPAS—Film dokumenter dapat menjadi media untuk mengedukasi masyarakat. Hal itu dilakukan dengan cara merefleksikan kisah dan nilai yang termuat dalam film. Sebab, banyak film dokumenter itu bertema sosial yang sebenarnya refleksi dari kehidupan itu disampaikan oleh Direktur Forum Film Dokumenter Henricus Pria Setiawan, saat membuka Festival Film Dokumenter FFD 2018, di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta, Gondomanan, Yogyakarta, Rabu 5/12/2018 malam. “Secara umum, kami ingin mengembangkan film dokumenter sebagai salahs atu media pembelajaran di Indonesia. Selama 17 tahun ini, memang diawali dengan sebuah festival yang disertai program-program yang dikerjakan secara berkelanjutan,” kata Direktur Forum Film Dokumenter Henricus Pria Setiawan, saat membuka Festival Film Dokumenter FFD 2018, di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta, Gondomanan, Yogyakarta, Rabu 5/12/2018.Pria menjelaskan, film-film yang diputarkan dalam festival tersebut diharapkan bisa menjadi referensi tontonan bagi masyarakat. Isu-isu sosial yang kerap diusung oleh pembuat film dokumenter diyakini memicu penontonnya untuk mau berpikir kritis mengenai berbagai hal di sekitar mereka.“Itu juga edukasi menurut kami dengan cara literasi media kepada masyarakat. Bagaimana film dokumenter merespon isu sekitar kita untuk dikembalikan kepada kita agar dikritisi bersama,” kata festival itu, terdapat 94 film yang akan diputarkan selama berlangsungnya ajang ini, mulai 5-12 Desember. Film-film itu berasal dari 27 CITRA ANUGRAHANTO Umar Haen, musisi asal Yogyakarta, sedang tampil dalam pembukaan Festival Film Dokumenter 2018, di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta, Rabu 5/12/2018.Film berjudul “Beautiful Things” karya Giorgio Ferrero dan Federico Bausin menjadi tontonan yang diputar dalam acara pembukaan festival itu. Secara garis besar, film itu mengajak penontonnya untuk memikirkan ulang tentang kerakusan manusia dalam mengonsumsi berbagai barang. Sering kali, mereka tak memikirkan bagaimana barang itu diproduksi hingga terdistribusi ke tangan mereka. Ada campur tangan para pekerja dalam rantai produksi barang-barang tersebut yang kerap tak kita sadari sejumlah program yang disajikan oleh penyelenggara dalam festival itu. Program itu berupa eksebisi, kompetisi, hingga diskusi. Hal-hal itu diharapkan mampu menambah wawasan masyarakat melalui cara menonton, mengupas, hingga memproduksi suatu film Direktur Festival Film Dokumenter 2018 Uki Satya, saat membuka Festival Film Dokumenter FFD 2018, di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta, Gondomanan, Yogyakarta, Rabu 5/12/2018.Direktur FFD 2018 Uki Satya menyampaikan, tahun ini, festival itu hadir tanpa tema. Hal itu sengaja dilakukan agar tidak membatasi karya-karya dokumenter yang akan saling bertemu dalam berbagai program di festival itu.“Setiap program berdiri sendiri sebagai respons atas dinamika sosial tanpa adanya batasan dalam tema festival. Kata kunci yang menggaris bawahi program kami adalah edukasi dengan semangat menciptakan ruang publik untuk saling belajar,” kata menilai, film dokumenter menjadi media yang tepat untuk menyampaikan berbagai hal. Terdapat tafsir yang memberi ruang bagi berbagai pemikiran bagi publik untuk saling mempertemukan gagasannya melalui proses kreatif.“Dokumenter merupakan kombinasi unik antar-disiplin ilmu dalam mengungkap fakta dan seni melalui penceritaan sinematik,” kata Uki.
FestivalFilm Dokumenter (FFD) akan kembali digelar pada tanggal 5-12 Desember 2018 di Taman Budaya Yogyakarta dan IFI-LIP Yogyakarta. Pada penyelenggaraannya yang ke-17 ini, FFD sengaja tidak tidak mengangkat tema spesifik Mudaers. Semangat untuk mengamati perkembangan dokumenter sebagai refleksi sosial dan media edukasi, adalah alasannya.
KUTA, BALI - Head of Forum Film Dokumenter, Festival Film Dokumenter, Henricus Pria, melihat ekosistem film dokumenter di Indonesia saat ini terus tumbuh. Hal ini didorong dengan munculnya berbagai festival film dokumenter di Indonesia, salah satunya Docs By The Sea, yang tengah diselenggarakan di Kuta, Bali, dan merupakan gelaran kedua setelah tahun lalu digelar."Platform-platform seperti Docs By The Sea ini salah satu cara untuk memulai running industri," kata Pria kepada Antaranews di Kuta, Bali, Kamis 9/8.Docs By The Sea 2018 yang berlangsung 2-9 Agustus 2018, diawali dengan program inkubasi selama empat-hari yang meliputi Storytelling Lab, Editing Lab, Pitching Exercise dan Masterclass. Program seperti ini juga dihadirkan oleh Festival Film Dokumenter untuk mendorong para pembuat film dokumenter agar mencapai pasar yang lebih luas."Platform seperti ini nantinya bisa menarik investor, produser-produser dari luar untuk bisa produksi film dokumenter di Indonesia," ujar Pria. Distribusi film dokumenter, menurut Pria, sebagian besar masih melalui festival film. Sementara, televisi sebagai media, biasanya melakukan produksi film dokumenter sendiri. Sementara itu, Pria melihat, produksi film dokumenter sendiri saat ini terus meningkat. Hal itu dilihat dari semakin banyak karya film dokumenter yang masuk dalam Festival Film Dokumenter."Tapi memang kalau dari segi nama secara perkembangan enggak terlalu banyak, terkadang kita masih melihat nama-nama lama, yang sebenarnya cukup lambat perkembangannya," kata Pria optimistis dengan regenerasi pembuat film dokumenter. Pasalnya, saat ini telah banyak institusi pendidikan yang menghadirkan program khusus untuk pembuatan film film dokumenterSaat ini, film dokumenter masih dianggap membosankan. Secara umum, masyarakat masih menjadikan tontonan film dokumenter yang ada di televisi, yang sebagian besar membahas film dokumenter sejarah, sebagai referensi film dokumenter film dokumenter bisa saja mengangkat kisah percintaan seseorang seperti karya sineas Vietnam "Never Been Kissed" yang masuk dalam Docs By The Sea, atau mengangkat isu lingkungan hidup tentang sampah plastik, yang coba disuarakan filmmaker Indonesia dalam "The Poly Bag Journal" di Docs By The Sea."Tantangan film paling dasar itu memang untuk memfamiliarkan . Ada banyak dokumenter alternatif, atau bentuk dokumenter dalam bentuk yang banyak, katakanlah di belahan dunia yang lain sudah banyak mulai menggunakan medium Virtual Reality VR," ujar video on-demand yang sedang populer saat ini, menurut Pria, juga cukup membantu film dokumenter untuk lebih dekat dengan penonton. "Digital platform saya melihatnya positif saja, artinya itu menjadi salah satu perkembangan teknologi yang sebenarnya malah kemungkinan memudahkan teman-teman mengakses berbagai konten," kata depannya, Pria mengatakan bahwa Festival Film Dokumenter juga akan mendorong film dokumenter ke platform digital. "Dalam 2-3 tahun ke depan kita akan memulai semacam FFD untuk platform akses Arsip atau kita coba bikin streaming reguler tapi yang via website," ujar Pria. sumber AntaraBACA JUGA Update Berita-Berita Politik Perspektif Klik di Sini
FestivalFilm Indonesia 2020; Tanggal: 5 Desember 2020 () Lokasi: Rekor ini sebelumnya diterima oleh Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak di tahun 2018 dengan perolehan 14 kategori yang dinominasikan. Film Dokumenter Panjang Terbaik. You and I - Fanny Chotimah.
YOGYAKARTA - Perhelatan Festival Film Dokumenter FFD 2018 resmi berakhir. Berlangsung pada 5-12 Desember 2018, FFD diselenggarakan dengan serangkaian agenda pemutaran film, diskusi, lokakarya kritik, pameran, dan eksibisi sendiri dihelat di Taman Budaya Yogyakarta dan IFI-LIP Yogyakarta. Malam pengenugerahan menjadi penutup gelaran FFD, yang digelar di Societet Militair Taman Budaya Program FFD 2018, Sazkia Noor Anggraini mengatakan, beragam acara dihadirkan selama delapan hari perhelatan. Selain itu, sbanyak 94 film telah diputar dalam 19 program."Sejak 2002 hingga saat ini, FFD berusaha untuk tetap konsisten menerima film-film kompetisi," kata Sazkia. Direktur IFI-LIP Yogyakarta, Sarah Camara menuturkan, selama 16 tahun ini gelaran FFD di IFI-LIP tidak berhenti menawarkan program bermutu. Semua itu diperuntukkan kepada khalayak umum dengan cara yang tematik dan beragam."Sehingga, memberikan kesempatan yang lebih luas dalam penciptaan dokumentasi," ujar kesempatan ini, Asia Doc turut memberikan penghargaan Akatara Award yang disampaikan Forum Flm Dokumenter. Asia Doc merupakan media pengembangan naskah dokumenter bagi pembuat film 12 judul, penghargaan Akatara Award diberikan kepada naskah film The Ant vs The Elephant karya Linda Nursanti. Acara inti malam pengenugerahan ini tentunya pengumuman pemenang dari tiga kategori Kehidupan karya Naira Capah dan Fauzan Syam Adiya terpilih jadi pemenang kategori pelajar, In the Claws of Century Wanting karya Jewel Maranan menjadi pemenang kategori film panjang tahun ini tidak ada pemenang untuk kategori dokumenter pendek lantaran juri tidak menemukan kecukupan eksplorasi bahasa sinema dari lima nominasi. Tapi, The Nameless Boy karya Diego Batara mendapat special mention jury Forum Film Dokumenter, Henricus Pria Setiawan berpendapat, kompetisi film ini merupakan ajang pembuat film membagikan perspektif. Serta, pandangan kritis terhadap isu-isu sekitar."Tahun ini FFD menerima 118 film kategori panjang internasional, 100 film kategori pendek, dan 23 film kategori pelajar," kata FFD 2018, Ukky Satya Nugrahani menambahkan, ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi dari perhelatan FFD tersebut. Pertama, keberadaan festival sebagai ruang dialog tidak akan terjadi tanpa antusiasme banyak lanjut Ukky, akan terus dilakukan evaluasi baik secara penyelenggaraan maupun organisasional. Karenanya, diharapkan gelaran ini senantiasa dapat diselenggarakan setiap tahun."Dan setiap program yang diadakan tahun ini maupun selanjutnya FFD akan lebih spesifik menarget penonton agar lebih tepat sasaran," ujar Ukky.
FestivalFilm Bulanan hadir dengan mengusung pembaharuan sebuah festival film, inovasi #festivalfilmbulanan adalah penyelenggaraan seleksi film pendek yang diadakan setiap bulan berdasarkan zonasi wilayah guna menjadi kegiatan dengan penyebaran social impact merata sehingga menjadi program yang tepat sasaran, tepat manfaat, dan tepat waktu. Setiap bulannya akan dipilih 2 film pendek terbaik
Call for Entry The Festival Film Dokumenter is accepting films until August 20th, 2018. Here you can find more information about their Call for Entry. Founded in 2002, Yogyakarta, Festival Film Dokumenter FFD is the first documentary film festival in Indonesia and Southeast Asia, focusing on the development of documentary film as a medium of expression and ecosystem of knowledge, through exhibition, education, and archiving. Setting forth the notion born in a light conversation between a group of youngsters, it sought to explore the raw potential in Indonesia’s cinema the documentary medium. Certain traits differentiate documentary films from other audiovisual products, a significant place as a media that educates, reflective, transcends time and space. Amidst the strong current of the mass media, documentary films hold its own role as independent, aspirational media. In its annual celebration every December, Festival Film Dokumenter always try to observe certain social issues as its focus, as well as creating a bridge between documentary filmmakers, professional filmmakers, and the general audiences, on the purpose of improving the quality and quantity of Indonesia documentary films. General Rules – Production year of the feature documentaries can be from 2016-2018. – Short Films in Competition must be produced between 2017-2018 and ONLY to Indonesian Nationality. – Short Films in Non- Competitive Seciton can be from any nationality and production year must be from 2016 to 2018. – Film of any language including English must include English subtitle. – Submission Fee FREE – Deadline August 20th, 2018. To read more about the Rules and Regulations please follow the next link We remind readers that the 2018 Festival Film Dokumenter will take place from December 5th – 12th 2018 in Yogyakarta, Indonesia. To see other Call for Entries please go to our section “Call for Entries”.
NmeMDIk. 3eage415qc.pages.dev/4213eage415qc.pages.dev/2633eage415qc.pages.dev/653eage415qc.pages.dev/163eage415qc.pages.dev/3813eage415qc.pages.dev/3153eage415qc.pages.dev/1223eage415qc.pages.dev/360
festival film dokumenter 2018