CeritaRakyat Nusantara | "Legenda Alue Naga". Suatu hari Sultan Meurah mendapat khabar tentang keresahan rakyatnya di suatu tempat, lalu beliau mengunjungi tempat tersebut yaitu sebuah desa di pinggiran Kuta Raja untuk mengetahui lebih lanjut keluhan rakyatnya. "Tuanku banyak ternak kami raib saat berada di bukit Lamyong," keluh seorang peternak.
Si Naga Hijau memperkenalkan diri dan mengatakan bahwa ia adalah sahabat dari ayahnya. Selama ini Raja Linge hilang, dan ia terakhir kali diketahui bersama dengan Si Naga Hijau. Baca Juga Hak Asuh Gala Sky Jatuh ke Tangan Haji Faisal, Fuji Ungkapkan Rasa Syukur Ketika Renggali bertanya di mana ayahnya, naga meminta Renggali untuk memanggilkan Sultan Alam. Renggali kembali ke istana dan menceritakan kejadian tersebut kepada Sultan Meurah. Sultan Merah pun setuju menemui naga di bukit Lamyong. Sesampainya di sana si naga menceritakan kejadian yang sebenarnya, bahwa ia telah membunuh Raja Linge dan jasad sang raja ada di bawah tubuhnya. Baca Juga Nomor Telepon dan Link Website Posko THR Virtual 2022, Bisa untuk Pengaduan Saat itu naga tidak bisa menggerakkan tubuhnya karena ada pedang Raja Linge yang terhunus di tubuhnya. Renggali tidak mau menghukum Naga Hijau. Ia lalu menarik pedang yang terhunus di tubuh naga dan meminta sang naga kembali ke kampung halamannya. Sambil menangis naga tersebut menggeser tubuhnya dan perlahan menuju laut. Maka terbentuklah sebuah alur atau sungai kecil akibat pergerakan naga tersebut. Maka di kemudian hari daerah di pinggiran Kuta Raja itu disebut Alue Naga, disana terdapat sebuah sungai kecil yang disekitarnya dipenuhi rawa-rawa yang selalu tergenang dari air mata penyesalan seekor naga yang telah mengkhianati sahabatnya. Pada bukit’ bekas tubuh naga terbentuknya sebuah sungai kecil yang dipenuhi rawa-rawa dengan genangan air. Kemudian Sultan Meurah memberi nama wilayah tersebut Alue Naga.*** Terkini LegendaAlue Naga "Itukah Naga Hijau yang menghilang bersama ayahmu?" Tanya Sultan Meurah penasaran. Menurut cerita rakyat yang diceritakan secara turun temurun di kalangan masyarakat Kalimantan Timur, sejak tahun 1700 an di tanah Pasir sudah ada sistem pemerintahan kerajaan yang sangat teratur. Di bawah pemerintahan kerajaan tersebut Mari kita simak Cerita legenda nusantara yang berasal dari provinsi Riau, asal mula alue naga. Suatu hari Sultan Meurah mendapat khabar tentang keresahan rakyatnya di suatu tempat, lalu beliau mengunjungi tempat tersebut yaitu sebuah desa di pinggiran Kuta Raja untuk mengetahui lebih lanjut keluhan rakyatnya. “Tuanku banyak ternak kami raib saat berada di bukit Lamyong,” keluh seorang peternak. “Terkadang bukit itu menyebabkan gempa bumi sehingga sering terjadi longsor dan membahayakan orang yang kebetulan lewat dibawahnya,” tambah yang lainnya. “Sejak kapan kejadian itu?” Tanya Sultan Meurah. “Sudah lama Tuanku, menjelang Ayahanda Tuanku mangkat,” jelas yang lain. Sesampai di istana Sultan memanggil sahabatnya Renggali, adik dari Raja Linge Mude. “Dari dulu aku heran dengan bukit di Lamnyong itu,” kata Sultan Meurah. “Mengapa ada bukit memanjang disana padahal disekitarnya rawa-rawa yang selalu berair,” sambung Sultan Meurah. “Menurut cerita orang tua, bukit itu tiba-tiba muncul pada suatu malam,” jelas Renggali, “abang hamba, Raja Linge Mude, curiga akan bukit itu saat pertama sekali ke Kuta Raja, seolah-olah bukit itu mamanggilnya,” tambahnya. “Cobalah engkau cari tahu ada apa sebenarnya dengan bukit itu!” Perintah Sultan. Maka berangkatlah Renggali menuju bukit itu, dia menelusuri setiap jengkal dan sisi bukit tersebut, mulai dari pinggir laut di utara sampai ke kesisi selatan, “bukit yang aneh, “bisik Renggali dalam hati. Kemudian dia mendaki bagian yg lebih tinggi dan berdiri di atasnya, tiba-tiba dari bagian di bawah kakinya mengalir air yang hangat. Renggali kaget dan melompat kebawah sambil berguling. “Maafkan hamba putra Raja Linge!” Tiba-tiba bukit yang tadi di pinjaknya bersuara. Renggali kaget dan segera bersiap-siap, “siapa engkau?” Teriaknya. Air yg mengalir semakin banyak dari bukit itu membasahi kakinya, “hamba naga sahabat ayahmu,” terdengar jawaban dari bukit itu dikuti suara gemuruh. Baca Juga Legenda I Laurang Sang Manusia Udang - Sulawesi Selatan Kisah Lutung Kasarung Kisah Jaka Tarub Dan Tujuh Bidadari Kerajaan Ternate - Sejarah Lengkap, Awal Mula, Raja,… Renggali sangat kaget dan di perhatikan dengan seksama bukit itu yang berbentuk kepala ular raksasa walaupun di penuhi semak belukar dan pepohonan. “Engkaukah itu? Lalu di mana ayahku? Tanya Renggali. Air yang mengalir semakin banyak dan menggenangi kaki Renggali. “Panggilah Sultan Alam, hamba akan buat pengakuan!” Isak bukit tersebut. Maka buru-buru Renggali pergi dari tempat aneh tersebut. Sampai di istana hari sudah gelap, Renggali menceritakan kejadian aneh tersebut kepada Sultan. “Itukah Naga Hijau yang menghilang bersama ayahmu?” Tanya Sultan Meurah penasaran. “Mengapa dia ingin menemui ayahku, apakah dia belum tahu Sultan sudah mangkat?” tambah Sultan Meurah. Maka berangkatlah mereka berdua ke bukit itu, sesampai disana tiba-tiba bukit itu bergemuruh. “Mengapa Sultan Alam tidak datang?” Suara dari bukit. “Beliau sudah lama mangkat, sudah lama sekali, mengapa keadaanmu seperti ini Naga Hijau? Kami mengira engkau telah kembali ke negeri mu, lalu dimana Raja Linge?” Tanya Sultan Meurah. Bukit itu begemuruh keras sehingga membuat ketakutan orang-orang tinggal dekat bukit itu. “Hukumlah hamba Sultan Meurah,” pinta bukit itu. “Hamba sudah berkhianat, hamba pantas dihukum,” lanjutnya. “Hamba sudah mencuri dan menghabiskan kerbau putih hadiah dari Tuan Tapa untuk Sultan Alam yang diamanahkan kepada kami dan hamba sudah membunuh Raja Linge,” jelasnya. Tubuh Renggali bergetar mendengar penjelasan Naga Hijau, “bagaimana bisa kamu membunuh sahabatmu sendiri?” Tanya Renggali. “Awalnya hamba diperintah oleh Sultan Alam untuk mengantar hadiah berupa pedang kepada sahabat-sahabatnya, semua sudah sampai hingga tinggal 2 bilah pedang untuk Raja Linge dan Tuan Tapa, maka hamba mengunjungi Raja Linge terlebih dahulu, beliau juga berniat ke tempat Tuan Tapa untuk mengambil obat istrinya, sesampai di sana Tuan Tapa menitipkan 6 ekor kerbau putih untuk Sultan Alam, kerbaunya besar dan gemuk. Karena ada amanah dari Tuan Tapa maka Raja Linge memutuskan ikut mengantarkan ke Kuta Raja, karena itu kami kembali ke Linge untuk mengantar obat istrinya. Namun di sepanjang jalan hamba tergiur ingin menyantap daging kerbau putih tersebut maka hamba mencuri 2 ekor kerbau tersebut dan hamba menyantapnya, Raja Linge panik dan mencari pencurinya lalu hamba memfitnah Kule si raja harimau sebagai pencurinya, lalu Raja Linge membunuhnya. Dalam perjalanan dari Linge ke Kuta Raja kami beristirahat di tepi sungai Peusangan dan terbit lagi selera hamba untuk melahap kerbau yang lezat itu, lalu hamba mencuri 2 ekor lagi, Raja Linge marah besar lalu hamba memfitnah Buya si raja buaya sebagai pencurinya maka dibunuhlah buaya itu. Saat akan masuk Kuta Raja, Raja Linge membersihkan diri dan bersalin pakaian ditepi sungai, lalu hamba mencuri 2 ekor kerbau dan menyantapnya tetapi kali ini Raja Linge mengetahuinya lalu kami bertengkar dan berkelahi, Raja Linge memiliki kesempatan membunuh hamba tetapi dia tidak melakukannya sehingga hamba lah yang membunuhnya,” cerita naga sambil berurai air mata. “Maafkanlah hamba, hukumlah hamba!” terdengar isak tangis sang naga. Mengapa engkau terjebak disini?” Tanya Sultan Meurah. “Raja Linge menusukkan pedangnya ke bagian tubuh hamba sehingga lumpuhlah tubuh hamba kemudian terjatuh dan menindihnya, sebuah pukulan Raja Linge ke tanah membuat tanah terbelah dan hamba tertimbun di sini bersamanya,” jelas sang naga. “Hamba menerima keadaan ini, biarlah hamba mati dan terkubur bersama sahabat hamba,” pinta Naga Hijau. “Berilah dia hukuman Renggali, engkau dan abangmu lebih berhak menghukumnya,” kata Sultan Meurah. “Ayah hamba tidak ingin membunuhnya, apalagi hamba, hamba akan membebaskannya,” jawab Renggali. “Tidak! Hamba ingin di hukum sesuai dengan perbuatan hamba,” pinta Naga Hijau. “Kalau begitu bebaskanlah dia!” Perintah Sultan Meurah. Maka berjalanlah mereka berdua mengelilingi tubuh naga untuk mencari pedang milik Raja Linge, setelah menemukannya, Renggali menarik dengan kuat dan terlepaslah pedang tersebut namun Naga Hijau tetap tidak mau bergerak. “Hukumlah hamba Sultan Meurah!” Pinta Naga Hijau. “Sudah cukup hukuman yang kamu terima dari Raja Linge, putranya sudah membebaskanmu, pergilah ke negerimu!” Perintah Sultan Meurah. Sambil menangis naga tersebut menggeser tubuhnya dan perlahan menuju laut. Maka terbentuklah sebuah alur atau sungai kecil akibat pergerakan naga tersebut. Maka di kemudian hari daerah di pinggiran Kuta Raja itu disebut Alue Naga, disana terdapat sebuah sungai kecil yang disekitarnya di penuhi rawa-rawa yang selalu tergenang dari air mata penyesalan seekor naga yang telah mengkhianati sahabatnya.
AlueNaga merupakan kawasan yang sering mengundang sensasi dan menarik banyak peneliti untuk datang ke sini. Sebelum tsunami, Alue Naga terkenal karena kisah Pulau Diamat yang sekarang menjadi Dusun Po Diamat. Dusun ini terletak di pesisir ujung Krueng Cut Gampong Alue Naga, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh. Dulunya dusun ini merupakan tempat pengasingan penduduk yang memiliki riwayat penyakit kusta atau lepra sejak tahun 1960.
Kisah Alue Naga merupakan legenda dari daerah Aceh tentang penyelidikan Sultan Meurah terhadap kejadian aneh yang terjadi di sebuah desa dekat Kuta Raja. Penduduk desa kehilangan ternak dan bukit Lamyong menyebabkan gempa bumi dan tanah longsor. Sultan Meurah mengirim sahabatnya Renggali untuk menyelidiki dan Renggali mendaki bukit dan menemukan bahwa sebenarnya naga yang menyebabkan masalah. Naga itu adalah abdi Sultan Alam yang telah mengkhianati dan membunuh sahabat Sultan Alam, Raja Linge. Nah berikut cerita legenda Alue Naga dalam Bahasa Inggris & Bahasa Indonesia. ==== The Legend of Alue Naga The story of Dragon Alue is a legend that comes from the Aceh region. Once upon a time, Sultan Meurah heard that something was troubling his people in a village near Kuta Raja. Hearing that his people were facing trouble, Sultan Meurah visited the village. The villagers said their livestock was disappearing and the Lamyong hill was causing earthquakes and landslides. “Sir, many of our livestock disappeared while on the Lamyong hill,” complained a farmer. ” Sometimes the hill causes earthquakes so that landslides often occur and endanger people who happen to pass under it,” added another. “Since when did this happen?” asked Sultan Meurah. “It’s been a long time, my lord, before my lord’s father died,” explained another. === Sultan Meurah was curious about the hill and asked his best friend, Renggali, to find out what was going on. Renggali was the son of Raja Linge Mude. Renggali went to the hill and explored it from top to bottom, from the north to the south. He found that it was a strange hill and climbed to the top. Suddenly, warm water started flowing from under his feet. Renggali was surprised and jumped down. === Just then, the hill spoke and said, “Forgive the servant of King Linge’s son!” Renggali was shocked and asked who was speaking. The water was getting deeper, and the hill answered, “I am the dragon, your father’s friend.” There was a loud roar, and Renggali knew that he had found the source of the trouble. === Renggali was very surprised to see the hill shaped like a giant snake. “Is that you? Then where is my father? asked Renggali. He was even more shocked when the hill spoke and asked Renggali to call Sultan Meurah. “Call Sultan Alam, I will make a confession!” Hiss the hill. Renggali quickly went back to the palace to inform the Sultan about what had happened. When they arrived at the hill, the hill said it wanted to confess. ==== It turned out that the hill was actually the Green Dragon, a servant of Sultan Alam who had betrayed and killed Sultan Alam’s friend, Raja Linge. “Why didn’t Sultan Alam come?” A voice from the hills. “He’s been dead for a long time, it’s been a long time, why are you like this Green Dragon? We thought you had returned to your country, so where is King Linge?” Sultan Meurah asked. The Green Dragon explained that Sultan Alam had asked him to deliver gifts of swords to his friends. When the Green Dragon arrived at Raja Linge’s home, he found six white buffaloes that had been left as a gift for Sultan Alam. He became greedy and decided to keep the buffaloes for himself. The Green Dragon also killed Raja Linge when he tried to take the gift back. “Judge me, punish me,” asked the hill. “My servant has betrayed me, I deserve to be punished,” he continued. “The servant has stolen and spent the white buffalo gift from Tuan Tapa for Sultan Alam entrusted to us and the servant has killed Raja Linge,” he explained. “How can you kill your own friend?” asked Renggali. Renggali was horrified to hear the Green Dragon’s confession. He couldn’t believe that the dragon would betray and kill its own friend. ==== “I feel so sorry for what I did,” said the dragon. “I stole the buffaloes and blamed others for it. I never meant to hurt anyone, but my greed got the best of me.” The dragon stole two buffaloes and ate them. King Linge was searching for the thief and Green Dragon pointed the finger at the tiger king and crocodile king. Raja Linge then killed them. Green Dragon continued to steal buffaloes and eventually, Raja Linge caught him in the act. “What happened after that?” asked Sultan Meurah. “Raja Linge was so upset with me that we got into a big fight,” explained the dragon. “In the end, I was the one who killed Raja Linge. But I never wanted things to end up like this.” ===== Sultan Meurah was curious, “Why are you here, stuck like this?” The dragon explained, “King Linge stuck his sword into my body, making me unable to move. He then fell on top of me, and a blow from him caused the ground to split and I was buried here with him.” The dragon cried out, “Forgive me, punish me!” The Green Dragon said, “I accept my fate. Let me die and be buried with my friend.” But Sultan Meurah had a different plan, “Renggali, Give him punishment, you have the right to punish him.” Renggali replied, “My father does not want to kill him. I will free him.” But the Green Dragon begged, “No! I want to be punished for what I’ve done.” And so, Sultan Meurah ordered, “Then set him free!” Renggali and Sultan Meurah searched for King Linge’s sword, and after finding it, Renggali pulled it out. But the Green Dragon still wouldn’t move. He asked to be punished, but Sultan Meurah declared, “The punishment you received from King Linge was enough. His son has freed you. Go back to your country.” With tears in his eyes, the dragon slowly moved towards the sea, creating a groove or small river. This area on the outskirts of Kuta Raja was named Alue Naga, a place filled with swamps and a small river, surrounded by the tears of regret from a dragon who had betrayed his friend. === Legenda Alue Naga Suatu ketika, Sultan Meurah mendengar ada yang meresahkan rakyatnya di desa dekat Kuta Raja. Mendengar bahwa rakyatnya sedang menghadapi masalah, Sultan Meurah mengunjungi desa tersebut. Penduduk desa mengatakan ternak mereka menghilang, karena di bukit Lamyong sering terjadi gempa bumi dan tanah longsor. “Tuan, ternak kami banyak yang hilang saat berada di bukit Lamyong,” keluh seorang petani. “Sering terjadi gempa dan longsor sehingga membahayakan orang yang kebetulan lewat di bawahnya,” tambah yang lain. “Sejak kapan ini terjadi?” tanya Sultan Meurah. “Sudah lama tuanku, sebelum ayah tuanku meninggal,” urai yang lain. ==== Sultan Meurah penasaran dengan bukit tersebut dan meminta sahabatnya, Renggali, untuk mencari tahu apa yang terjadi. Renggali adalah anak dari Raja Linge Mude. Renggali pergi ke bukit dan menjelajahinya dari atas ke bawah, dari utara ke selatan. Dia menemukan bahwa bukit itu aneh. Tiba-tiba, air hangat mulai mengalir dari bawah kakinya. Renggali terkejut dan melompat turun. ==== Seketika, bukit itu berbicara dan berkata, “Maafkan hamba, putra Raja Linge!” Renggali terkejut dan bertanya siapa yang berbicara. Air semakin dalam, dan bukit itu menjawab, “Aku naga, teman ayahmu.” Terdengar suara gemuruh yang keras, dan Renggali tahu bahwa dia telah menemukan sumber masalahnya. ==== Renggali sangat terkejut melihat bukit yang berbentuk seperti ular raksasa itu. “Apakah itu kamu si Naga Hijau? Lalu dimana ayahku? tanya Renggali. Ia semakin terkejut ketika bukit itu berbicara dan meminta Renggali untuk memanggil Sultan Meurah. “Panggil Sultan Alam, saya akan membuat pengakuan!” Desis bukit. Renggali segera kembali ke istana untuk memberi tahu Sultan tentang apa yang telah terjadi. Ketika mereka sampai di bukit, bukit itu mengatakan ingin mengaku. ==== Ternyata bukit itu sebenarnya adalah Naga Hijau, seorang anak buah Sultan Alam yang telah berkhianat dan membunuh sahabat Sultan Alam, Raja Linge. “Mengapa Sultan Alam tidak datang?” Suara dari bukit. “Dia sudah lama mati, sudah lama sekali, mengapa kamu seperti ini Naga Hijau? Kami pikir kamu telah kembali ke negaramu, jadi di mana Raja Linge?” tanya Sultan Meurah. Sang Naga Hijau menjelaskan bahwa Sultan Alam memintanya untuk mengantarkan hadiah berupa pedang kepada para sahabatnya. Ketika Naga Hijau tiba di rumah Raja Linge, ia menemukan enam ekor kerbau putih yang ditinggalkan sebagai hadiah untuk Sultan Alam. Dia menjadi serakah dan memutuskan untuk memakan kerbau-kerbau itu. Naga Hijau juga membunuh Raja Linge ketika dia mencoba mengambil kembali hadiah itu. “Hukum hamba, hukum hamba” kata bukit itu. “Hamba telah membunuh tuanku, hamba pantas dihukum,” lanjutnya. “Hamba telah mencuri dan menghabiskan kerbau putih pemberian Tuan Tapa untuk Sultan Alam yang dititipkan kepada kami dan hamba telah membunuh Raja Linge,” jelasnya. “Bagaimana kamu bisa membunuh temanmu sendiri?” tanya Renggali. Renggali terkejut mendengar pengakuan Naga Hijau. Dia tidak percaya naga itu akan mengkhianati dan membunuh temannya sendiri. ==== “Hamba merasa sangat menyesal atas apa yang telah hamba lakukan,” kata sang naga. “Hamba mencuri kerbau dan menyalahkan orang. Hamba tidak pernah bermaksud menyakiti siapa pun, tetapi keserakahan menguasai hamba.” Naga itu mencuri dua kerbau dan memakannya. Raja Linge mencari pencuri dan Naga Hijau menuding harimau dan buaya. Raja Linge kemudian membunuh harimau dan buaya itu. Si Naga Hijau terus mencuri kerbau dan akhirnya, Raja Linge berhasil menangkapnya. “Apa yang terjadi setelah itu?” tanya Sultan Meurah. “Raja Linge sangat marah padaku sehingga kami bertengkar hebat,” jelas sang naga. “Pada akhirnya, hambalah yang membunuh Raja Linge. Tapi hamba tidak pernah menginginkan hal tersebut berakhir seperti ini.” === Sultan Meurah penasaran, “Kenapa kamu di sini, dan terjebak di sini?” Naga itu menjelaskan, “Raja Linge menancapkan pedangnya ke tubuh hmba, membuat hamba tidak bisa bergerak. Dia kemudian terjatuh di atas hamba, dan hantamannya menyebabkan tanah terbelah dan hamba terkubur di sini bersamanya.” Naga itu berteriak, “Maafkan hamba, hukum hamba!” Naga Hijau berkata, “Hamba menerima takdir hamba. Biarkan hamba mati dan dikubur bersama temanku.” Tapi Sultan Meurah punya rencana lain, “Renggali, beri dia hukuman, kamulah yang berhak menghukumnya.” Renggali menjawab, “Ayahku tidak mau membunuhnya. Aku akan membebaskannya.” Tapi Naga Hijau memohon, “Tidak! Hamba ingin dihukum atas apa yang telah hamba lakukan.” Maka, Sultan Meurah memerintahkan, “Kalau begitu bebaskan dia!” Renggali dan Sultan Meurah mencari pedang Raja Linge, dan setelah itu mencabutnya. Tetapi Naga Hijau masih tidak mau bergerak. Dia meminta untuk dihukum, tetapi Sultan Meurah menyatakan, “Hukuman yang kamu terima dari Raja Linge sudah cukup. Putranya telah membebaskanmu. Kembalilah ke negaramu.” Dengan berlinang air mata, naga itu perlahan bergerak menuju laut, menciptakan alur sungai kecil. Daerah di pinggiran Kuta Raja ini sekarang bernama Alue Naga, sebuah tempat yang dipenuhi rawa dan sungai kecil, dikelilingi oleh air mata penyesalan dari seekor naga yang telah mengkhianati temannya.
Renggalitidak mau menghukum Naga Hijau. Ia lalu menarik pedang yang terhunus di tubuh naga dan meminta si naga kembali ke kampung halamannya. Pada 'bukit' bekas tubuh naga terbentuknya sebuah sungai kecil yang dipenuhi rawa-rawa dengan genangan air. Sultan Meurah memberi nama wilayah tersebut Alue Naga. 4. Cerita Rakyat Sangkuriang, Jawa Barat 0% found this document useful 0 votes9 views3 pagesCopyright© © All Rights ReservedAvailable FormatsDOCX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?0% found this document useful 0 votes9 views3 pagesAlue Naga MIN 12 BIREUENAULIA FASHBIR KELAS V/6 "Legenda Alue Naga" Suatu hari Sultan Meurah mendapat khabar tentang keresahan rakyatnya di suatutempat, lalu beliau mengunjungi tempat tersebut yaitu sebuah desa di pinggiran Kuta Rajauntuk mengetahui lebih lanjut keluhan rakyatnya. "Tuanku banyak ternak kami raib saat berada di bukit Lamyong," keluh seorang peternak. "Terkadang bukit itu menyebabkan gempa bumi sehingga sering terjadi longsor dan membahayakan orang yang kebetulan lewat dibawahnya," tambah yang lainnya. "Sejak kapan kejadian itu?" Tanya Sultan Meurah. "Sudah lama Tuanku, menjelang Ayahanda Tuanku mangkat," jelas yang lain. Sesampai di istana Sultan memanggil sahabatnya Renggali, adik dari Raja Linge Mude. "Daridulu aku heran dengan bukit di Lamnyong itu," kata Sultan Meurah. "Mengapa ada bukitmemanjang disana padahal disekitarnya rawa-rawa yang selalu berair," sambung Sultan Meurah."Menurut cerita orang tua, bukit itu tiba-tiba muncul pada suatu malam," jelas Renggali, "abanghamba, Raja Linge Mude, curiga akan bukit itu saat pertama sekali ke Kuta Raja, seolah-olah bukit itu mamanggilnya," tambahnya. "Cobalah engkau cari tahu ada apa sebenarnya dengan bukit itu!" Perintah berangkatlah Renggali menuju bukit itu, dia menelusuri setiap jengkal dan sisi bukittersebut, mulai dari pinggir laut di utara sampai ke kesisi selatan, "bukit yang aneh, "bisik Renggali dalam hati. Kemudian dia mendaki bagian yg lebih tinggi dan berdiri di atasnya, tiba-tiba dari bagian di bawah kakinya mengalir air yang hangat. Renggali kaget dan melompatkebawah sambil berguling."Maafkan hamba putra Raja Linge!" Tiba-tiba bukit yang tadi di pinjaknya bersuara. Renggalikaget dan segera bersiap-siap, "siapa engkau?" Teriaknya. Air yg mengalir semakin banyak dari bukit itu membasahi kakinya, "hamba naga sahabat ayahmu," terdengar jawaban dari bukit itudikuti suara gemuruh. Renggali sangat kaget dan di perhatikan dengan seksama bukit itu yang berbentuk kepala ular raksasa walaupun di penuhi semak belukar dan pepohonan. "Engkaukah itu? Lalu di manaayahku? Tanya Renggali. Air yang mengalir semakin banyak dan menggenangi kaki Renggali."Panggilah Sultan Alam, hamba akan buat pengakuan!" Isak bukit tersebut. Maka buru-buruRenggali pergi dari tempat aneh tersebut. Sampai di istana hari sudah gelap, Renggalimenceritakan kejadian aneh tersebut kepada Sultan."Itukah Naga Hijau yang menghilang bersama ayahmu?" Tanya Sultan Meurah penasaran."Mengapa dia ingin menemui ayahku, apakah dia belum tahu Sultan sudah mangkat?" tambahSultan Meurah. Maka berangkatlah mereka berdua ke bukit itu, sesampai disana tiba-tiba bukititu bergemuruh. "Mengapa Sultan Alam tidak datang?" Suara dari bukit. "Beliau sudah lamamangkat, sudah lama sekali, mengapa keadaanmu seperti ini Naga Hijau? Kami mengira engkautelah kembali ke negeri mu, lalu dimana Raja Linge?" Tanya Sultan Meurah. Bukit itu begemuruh keras sehingga membuat ketakutan orang-orang tinggal dekat bukit itu."Hukumlah hamba Sultan Meurah," pinta bukit itu. "Hamba sudah berkhianat, hamba pantasdihukum," lanjutnya. "Hamba sudah mencuri dan menghabiskan kerbau putih hadiah dari TuanTapa untuk Sultan Alam yang diamanahkan kepada kami dan hamba sudah membunuh RajaLinge," jelasnya. Tubuh Renggali bergetar mendengar penjelasan Naga Hijau, "bagaimana bisakamu membunuh sahabatmu sendiri?" Tanya Renggali."Awalnya hamba diperintah oleh Sultan Alam untuk mengantar hadiah berupa pedang kepadasahabat-sahabatnya, semua sudah sampai hingga tinggal 2 bilah pedang untuk Raja Linge danTuan Tapa, maka hamba mengunjungi Raja Linge terlebih dahulu, beliau juga berniat ke tempatTuan Tapa untuk mengambil obat istrinya, sesampai di sana Tuan Tapa menitipkan 6 ekor kerbau putih untuk Sultan Alam, kerbaunya besar dan ada amanah dari Tuan Tapa maka Raja Linge memutuskan ikut mengantarkan ke KutaRaja, karena itu kami kembali ke Linge untuk mengantar obat istrinya. Namun di sepanjang jalanhamba tergiur ingin menyantap daging kerbau putih tersebut maka hamba mencuri 2 ekor kerbau tersebut dan hamba menyantapnya, Raja Linge panik dan mencari pencurinya lalu hambamemfitnah Kule si raja harimau sebagai pencurinya, lalu Raja Linge perjalanan dari Linge ke Kuta Raja kami beristirahat di tepi sungai Peusangan dan terbitlagi selera hamba untuk melahap kerbau yang lezat itu, lalu hamba mencuri 2 ekor lagi, RajaLinge marah besar lalu hamba memfitnah Buya si raja buaya sebagai pencurinya makadibunuhlah buaya itu. Saat akan masuk Kuta Raja, Raja Linge membersihkan diri dan bersalin pakaian ditepi sungai, lalu hamba mencuri 2 ekor kerbau dan menyantapnya tetapi kali ini RajaLinge mengetahuinya lalu kami bertengkar dan berkelahi, Raja Linge memiliki kesempatanmembunuh hamba tetapi dia tidak melakukannya sehingga hamba lah yang membunuhnya,"cerita naga sambil berurai air mata."Maafkanlah hamba, hukumlah hamba!" terdengar isak tangis sang naga. Mengapa engkauterjebak disini?" Tanya Sultan Meurah. "Raja Linge menusukkan pedangnya ke bagian tubuhhamba sehingga lumpuhlah tubuh hamba kemudian terjatuh dan menindihnya, sebuah pukulanRaja Linge ke tanah membuat tanah terbelah dan hamba tertimbun di sini bersamanya," jelassang naga."Hamba menerima keadaan ini, biarlah hamba mati dan terkubur bersama sahabat hamba," pinta Naga Hijau. "Berilah dia hukuman Renggali, engkau dan abangmu lebih berhak menghukumnya," kata Sultan Meurah. "Ayah hamba tidak ingin membunuhnya, apalagi hamba,hamba akan membebaskannya," jawab Renggali. "Tidak! Hamba ingin di hukum sesuai dengan perbuatan hamba," pinta Naga Hijau. "Kalau begitu bebaskanlah dia!" Perintah Sultan Meurah.
SyukurAlhamdulillah, cerita Naga Emas Danau Ranau ini dapat penulis selesaikan tepat waktu semata-mata karena izin-Nya. Cerita Naga Emas Danau Ranau ini dikembangkan dari cerita rakyat yang berkembang di sekitar Danau Ranau Lampung Barat. Sebagian wilayah Danau Ranau juga termasuk wilayah Sumatera Selatan.
OLEH AMRULLAH BUSTAMAM, Dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh, melaporkan dari Banda Aceh Gampong Alue Naga di Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, ternyata punya legenda menarik tentang naga. Saat menelusuri literasi, saya dapatkan dua versi cerita rakyat terkait asal-usul istilah Alue Naga ini. Versi pertama, legenda yang mengisahkan tentang sang Naga Hijau dari Kerajaan Linge. Naga tersebut konon berkhianat pada sahabatnya, yakni Raja Linge. Karena berkhianat, naga mendapat tusukan pedang raja di tubuhnya setelah berkelahi gegara sang naga memakan seluruh kerbau putih yang merupakan amanah Tuan Tapa dari Selatan. Kerbau putih itu dititipkan pada Raja Linge untuk diserahkan kepada Sultan Alam. Di akhir cerita, meski sang naga meminta untuk dihukum oleh Renggali yang merupakan putra Raja Linge, tapi naga yang telah lama menjelma jadi sebuah bukit di kawasan Lamnyong itu-setelah sekian lama tak bisa bergerak akibat tusukan raja–justru dilepaskan Renggali untuk kembali ke asalnya. Ia tak ingin membunuh naga tersebut. Alasan utamanya adalah sang naga adalah sahabat ayahnya. Raja Linge saja tidak tega membunuh sang naga, apalagi Renggali, anak beliau. Maka, pulanglah sang naga ke asalnya. Sembari menangis, naga tersebut menggeser tubuhnya yang terluka dan bergerak perlahan menuju laut. Di tempat yang ia lewati itulah terbentuk sebuah alur atau sungai kecil. Kemudian, daerah inilah yang disebut Alue Naga. Cerita versi ini sudah diekspoe sejak tahun 2018 di laman web bahkan kisah Alue Naga ini sudah diangkat menjadi film kartu di channel Youtube Dongeng Kita dan Chanel Legenda dari Negeri Aceh Alue Naga. Versi kedua tentang asal-usul nama Alue Naga ini berawal dari ujung paling utara Pulau Perca Andalas/Sumatra sekarang. Terdapatlah sebuah kerajaan bernama Kerajaan Alam, rajanya berjuluk Mahkota Alam Meukuta Alam, sedangkan ibu kotanya bernama Kota Alam Kuta Alam. Sang Raja memiliki sahabat, yaitu seekor naga hijau. Kerajaan Alam ini sangat makmur karena letaknya sangat stategis, yakni terletak di ujung selat yang sangat ramai. Di sebelah timur Kerajaan Alam dipisahkan oleh sebuah sungai terdapat sebuah kerajaan lain yang bernama Kerajaan Pedir yang merupakan saingan Kerajaan Alam. Suatu ketika Kerajaan Pedir melakukan gangguan melalui jalur laut, tapi selalu kalah. Pasukan Kerajaan Pedir sendiri tidak bisa memasuki wilayah Kerajaan Alam karena di sisi sungai yang memisahkan kedua kerajaan tersebut hidup naga sakti bernama Sabang. Raja Pedir sangat kesal dan memanggil dua orang jagoan yang mampu menghadapi naga Sabang. Mereka adalah dua raksasa sangat sakti yang bernama Seulawah Agam dan Seulawah Inong. Singkat cerita, pada saat yang ditentukan, terjadilah pertarungan di perbatasan antara Kerajaan Alam dan Kerajaan Pedir disaksikan oleh rakyat kedua kerajaan tersebut. Pertarungan dua lawan satu berakhir dengan tertebasnya leher naga. Kemudian, Seulawah Agam melemparkan kepala naga Sabang ke arah utara. Lemparan kepala naga tersebut jatuh di darat Kerajaan Alam, tapi terus berguling membentuk sebuah alur dan berhenti di tepi pantai utara Kerajaan Alam. Lokasi alur bergulingnya kepala naga Sabang menjadi sungai yang pada muaranya itu kelak dikenal dengan nama Alue Naga. Pra dan pascatsunami Alue Naga merupakan kawasan yang sering mengundang sensasi dan menarik banyak peneliti untuk datang ke sini. Sebelum tsunami, Alue Naga terkenal karena kisah Pulau Diamat yang sekarang menjadi Dusun Po Diamat. Dusun ini terletak di pesisir ujung Krueng Cut Gampong Alue Naga, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh. Dulunya dusun ini merupakan tempat pengasingan penduduk yang memiliki riwayat penyakit kusta atau lepra sejak tahun 1960. Pulau Diamat ini merupakan pulau pengasingan bagi pengidap kusta yang berasal dari berbagai daerah di Aceh, tapi pascatsunami hanya tinggal lima orang lagi. Alhamdulillah kondisi mereka sudah sembuh semua dan setiap tahunnya secara khusus Baitul Mal Kota Banda Aceh membantu masyarakat yang memiliki riwayat penyakit tersebut. Melalui senif fakir uzur disantuni per tiga bulan guna membantu ekonomi mareka yang hidup di bawah garis kemiskinan. Selanjutnya kasus tanah erfach, banyaknya tanah erfach dengan statusnya yang tidak jelas pascatsunami berimbas pada telatnya proses rehab rekon di Gampong Alue Naga saat itu. Untuk menyelesaikannnya, salah satu Forum NGO Luar Negeri yang tergabung dalam Aceh Habitat Club coba menggagas penelitian dan diskusi untuk mencari solusi terkait percepatan pembangun di Alue Naga yang luluh lantak saat tsunami 2004 dan menghilangkan infrastruktur tanah meliputi lebih kurang hektare persil tanah. Banyak NGO Asing yang telah berpartisipasi di Alue Naga saat itu, seperti CRS, Muslim Aid, Mercy Corp, Caritas Germany, Save The Children, Oxfam, Kerap/P2KP. dan yang paling konsiten adalah BRR NAD-Nias. Khusus untuk Dusun Podiamat dan Kutaran, tepatnya di Timur Gampong Alue Naga, secara umum 80% persil tanahnya sudah hilang karena hantaman besar tsunami. Di sisi lain masih banyak warga dari kedua dusun ini masih selamat. Persoalan selanjutnya adalah para warga dari dusun ini yang kebanyakan adalah pelaut tidak mau direlokasi ke bukit Neuheun yang sudah didirikan bangunan rumah bantuan. Masyarakat bersikeras bertahan di barak-barak pengungsi. Yang menarik dari adalah masyarakat Alue Naga menyebutkan bahwa mereka adalah pelaut dan tidak mungkin tinggal di bukit, “Maka bawalah bukit itu ke sini Alue Naga bangun kembali gampong kami,” pinta mereka. Untuk menyelesaikan polemik membutuhkan waktu yang cukup lama hal ini karena terkait pengeluaran dana yang cukup besar untuk menimbun kembali lokasi yang sudah menjadi laut pasca tsunami. BRR NAD Nias melalui Satker Perkim akhirnya mengabulkan keinginan masyarakat Alue Naga dan ditimbunlah dua dusun tersebut dengan tanah dan batu dari bukit Ujong Bate. Hasil akhirnya biasa kita lihat sekarang berdirinya puluhan rumah di empat dusun Gampong Alue Naga ini lengkap dengan prasarana lainnya, seperti meunasah, sekolah, dan lainnya. Ada beberapa harapan dari warga Alue Naga yang belum terlaksana kiranya dan membutuhkan perhatian serius dari Pemko Banda Aceh, Pertama, harapan dari perangkat Gampong Alue Naga, sekiranya lokasi Alue Naga dapat dirawat menjadi aset wisata halal sembari meningkatkan perekonomian warga setempat. Harapan ini tampaknya akan segera terealisasi kiranya, karena pihak pemko melalui Dinas Pariwisata Kota banda Aceh telah berencana memugar kembali semua aset wisata dimulai dari barat Ulee Lheue sampai ke timur Alue Naga. Kedua, harapan akan dibangunnya kembali jembatan penghubung dari dusun Kutaran, Podiamat ke Dusun Musafir, Bunot. Jembatan ini pernah dibangun pada masa Presiden Soeharto tapi telah hancur karena terjangan tsunami dan sampai sekarang tidak dibangun kembali. Dan harapan-harapan lainnya seperti yang sudah tercetak dalam blueprint pascatsunami. Alue Naga adalah Mutiara yang dilupakan dan di sia-siakan Pemko Banda Aceh selama ini. Semoga pembangunan Kota Banda Aceh terus berkembang. * CeritaRakyat Kalimantan Barat, Asal-Usul Bukit Kelam. Pada suatu hari, Malin Kundang jatuh sakit, Mande Rubayah panik tak tertolongkan. Bagaimana tidak, Malin menderita penyakit keras yang hampir merenggut nyawanya. Ibunya yang hanya mengandalkan pekerjaan sebagai tukang kue keliling, kemudian memutar otak, untuk mencari cara bagaimana agar Cerita rakyat Naga Erau merupakan salah satu legenda populer yang erat kaitannya dengan pelaksanaan festival di Kalimantan Timur. Apakah kamu familier dengan ceritanya? Kalau belum, mari simak kisah lengkapnya dalam artikel ini!Secara lebih spesifik, cerita rakyat Naga Erau berasal dari Tenggarong, yakni ibu kota dari Kabupaten Kutai Kartanegara. Legendanya sendiri mengisahkan tentang dua sosok, yakni Aji Batara Agung Dewa Sakti dan Putri Karang artikel ini, kamu akan menjumpai kisah lengkap dari dongeng legendaris tersebut. Selain itu, ada juga pembahasan mengenai unsur-unsur intrinsik dan fakta menarik yang bisa menambah kira-kira seperti apa cerita rakyat Naga Erau serta pembahasannya? Daripada makin penasaran, lebih baik kamu langsung menyimak kisahnya dalam uraian berikut, yuk! Semoga saja setelah menyimak kisahnya, ada pesan moral yang bisa kamu Rakyat Naga Erau Sumber Wikimedia Commons Pada zaman dulu kala, terdapat sebuah desa yang terletak di lereng sebuah gunung di daerah Kalimantan Timur bernama Jaitan Layar. Desa tersebut dipimpin oleh seorang petinggi dengan istrinya. Meskipun sudah berusia lanjut, tapi mereka belum juga dikaruniai seorang anak. Pasangan suami istri itu tidak pernah putus asa dan tetap berusaha. Seringkali, mereka pergi bertapa jauh dari kerabat dan penduduk Jaitan Layar. Setiap bertapa, mereka tak henti-hentinya berdoa memohon kepada Dewata agar diberi keturunan. Pada suatu malam, ketika seluruh penduduk di Desa Jaitan Layar tidur terlelap, terdengar bunyi gemuruh di halaman rumah pemimpin dusun. Lingkungan sekitar yang mulanya gelap gulita sekejap menjadi terang benderang. “Cahaya apa itu, Pak?” tanya istri sang Petinggi yang terbangun dari tidurnya. Suaminya hanya menggeleng kepala karena sama-sama tidak tahu. Sang istri kemudian menyuruh suaminya untuk mengecek apa yang yang terjadi di depan rumahnya. Sang Petinggi kemudian memberanikan diri untuk mengecek halaman rumahnya. Ia sangat terkejut melihat keberadaan sebuah batu raga mas di halaman rumahnya. Setelah dicek, ternyata di dalam batu itu terdapat seorang bayi laki-laki yang masih merah seperti baru lahir yang diselimuti kain berwarna emas. Ketika diamati, ternyata tangan kanan bayi laki-laki tersebut memegang sebutir telur ayam. Sementara itu, tangan kirinya memegang sebilah keris emas. Sang bayi terlihat tertidur pulas sambil memegang dua benda di kedua tangannya itu. Keinginan Mendapatkan Anak Dikabulkan Para Dewa Sang Petinggi yang masih mencoba memproses apa yang tengah dialaminya kemudian dikejutkan dengan kehadiran tujuh dewa di hadapan matanya. Dikisahkan dalam cerita rakyat Naga Erau, salah satu dari dewa itu lalu berbicara kepada sang Petinggi. “Berterimakasihlah kamu karena doamu telah dikabulkan oleh para dewa. Bayi ini adalah keturunan dari para dewa di kahyangan. Maka dari itu, kamu tidak boleh menyia-nyiakannya. Cara merawat bayi laki-laki itu juga berbeda dengan bayi-bayi pada umumnya,” ujar sang Dewa. “Kamu jangan sampai meletakan bayi itu sembarangan di atas tikar. Ia harus dipangku secara bergantian oleh kaum kerabat sang Petinggi selama empat puluh hari empat puluh malam. Selain itu, ketika dimandikan, air yang dipakai untuk bayi tersebut haruslah dengan air yang diberi bunga-bungaan, bukan air biasa.” Sang Dewa kemudian melanjutkan pesannya, ” Kelak jika bayi laki-laki itu sudah tumbuh besar, maka ia tidak boleh menginjak tanah sebelum diadakan Erau. Ketika melaksanakan acara Tijak Tanah Menginjak Tanah, kaki anak itu harus diinjakkan pada kepala manusia yang masih hidup dan yang telah mati.” “Selain itu, kaki anak tersebut juga perlu diinjakkan ke kepala kerbau yang telah mati dan yang masih hidup. Saat sang anak ingin mandi di sungai untuk pertama kali, kamu juga hendaknya menggelar Mandi ke Tepian, sama seperti pada upacara Tijak Tanah.” Sang Petinggi menyimak pesan dari sang Dewa dengan seksama. Ia dipenuhi rasa kebahagiaan karena akhirnya bisa memiliki seorang putra. “Terima kasih, Dewa. Saya akan melaksanakan semua petuah Dewa dengan sebaik-baiknya,” ucap sang Petinggi. Setelah selesai menyampaikan pesan kepada sang Petinggi, ketujuh dewa itupun tiba-tiba menghilang. Sang Petinggi lalu membawa bayi laki-laki itu ke rumah dan menceritakan kejadian yang baru saja ia alami pada istrinya. Mendengar penuturan suaminya, sang istri Petinggi merasa sangat bahagia dan jatuh hati dengan bayi laki-laki itu. Bayi tersebut memiliki paras yang tampan bagaikan bulan purnama dengan tubuh yang sehat dan segar. Siapa pun yang memandangnya, akan tumbuh rasa kasih sayang untuk si bayi. Timbul Masalah Soal Menyusui Bayi Keturunan Dewa Sayangnya, bayi itu kemudian tiba-tiba menangis. Pasangan suami istri itu menebak bahwa si bayi merasa kelaparan. Mereka kebingungan karena payudara istri sang Petinggi tidak mungkin mengeluarkan air susu dikarenakan umurnya yang sudah tua. Sang Petinggi kemudian membakar dupa dan setanggi sembari menebar beras kuning dalam cerita rakyat Naga Erau. Ia lalu memanjatkan doa kepada para dewa supaya bisa memberikan keajaiban pada istrinya untuk bisa memproduksi air susu yang harum baunya. Tak disangka, terdengarlah suara dari Kahyangan setelah sang Petinggi selesai memanjatkan doanya. “Nyai Jaitan Layar, usap-usaplah payudaramu dengan tangan berulang kali sampai muncul air susu darinya, ” perintah suara itu. Sang istri Petinggi segera melakukan perintah dari suara kahyangan tersebut. Ia mengusap-usap payudaranya sebelah kanan sebanyak tiga kali. Ajaibnya, air susu benar-benar keluar dari payudara sang istri Petinggi dan memiliki bau yang harum seperti wangi ambar dan kasturi. Pasangan suami istri itu sangat gembira karena bisa memberikan asupan gizi kepada bayi laki-laki keturunan dewa itu. Sang bayi sendiri berhenti menangis dan dengan penuh semangat menyusu pada payudara istri sang Petinggi. Sesuai dengan petuah dari para dewa, bayi laki-laki itu diberi nama Aji Batara Agung Dewa Sakti. Sang Petinggi dan istrinya merawat putra mereka sesuai dengan petunjuk para dewa. Mereka memandikan anaknya dengan menggunakan air bunga. Tiga hari tiga malam kemudian, putuslah tali pusar Aji Batara Agung Dewa Sakti. Kejadian itu dirayakan oleh seluruh penduduk Jaitan Layar dengan sukacita. Mereka merayakannya dengan menembakkan meriam Sapu Jagat sebanyak tujuh kali. Selama empat puluh hari empat puluh malam, Aji dipangku bergantian oleh penduduk desa Jaitan Layar. Mengingat latar belakangnya, mereka menjaga bayi itu dengan sebaik-baiknya karena tidak mau mengecewakan sang Petinggi dan para dewa di kahyangan. Baca juga Legenda Putri Aji Bidara Putih, Asal Usul Terbentuknya Danau Lipan Beserta Ulasan Lengkapnya Pelaksanaan Tradisi Erau Sumber Instagram – astinsoekanto Lima tahun telah berlalu. Aji telah menjadi anak kecil yang bisa berjalan ke sana dan ke mari. Sayangnya, sang Petinggi dan istrinya belum bisa membolehkan putra mereka untuk bermain dengan teman-temannya sebelum upacara Tijak Tanah dilakukan. Beberapa hari kemudian, sang Petinggi dibantu dengan para penduduk Desa Jaitan Layar menggelar pesta Erau yang didalamnya juga dilaksanakan upacara Tijak Tanah dan Mandi ke Tepian. Dalam cerita rakyat Naga Erau, penyelenggaraan pesta Erau dilakukan selama empat puluh hari empat puluh malam secara meriah. Sang Petinggi menyembelih kerbau sesuai dengan perintah para dewa dan menyediakan jenazah untuk upacara Tijak Tanah. Aji Batara Agung Dewa Sakti kemudian diarak dan kakinya dipijakkan pada kepala hewan dan manusia yang telah ditutupi dengan kain berwarna kuning. Setelah upacara Tijak Tanahi selesai, para penduduk Jaitan Layar lalu membawa putra sang Petinggi ke sungai untuk upacara Mandi ke Tepian. Dalam upacara tersebut, Aji dimandikan dan kakinya dipijakkan pada batu yang ada di sungai. Selain putra sang Petinggi, semua warga desa ikut mandi, baik perempuan atau laki-laki, muda dan tua. Selepasnya, Aji Batara Agung Dewa Sakti diarak pulang ke rumah orangtuanya. Oleh orang-orang, putra sang Petinggi itu kemudian dipakaikan baju kebesaran. Aji lalu kembali dibawa ke halaman dengan dilindungi payung agung dan diiringi lagu gamelan Gajah Perwata serta bunyi meriam Sapu Jagat. Ketika penduduk Jaitan Layar sibuk meramaikan arak-arakan itu, tiba-tiba saja terdengar bunyi dentuman guntur yang dahsyat. Suaranya membuat bumi seperti tergoncang disertai hujan panas turun merintik. Namun, kejadian itu rupanya tidak berlangsung lama karena cahaya cerah kembali menerangi langit desa Jaitan Layar. Melihat kejadian itu, penduduk desa lalu menghamparkan kasur agung dan permadani kemudian membaringkan Aji Batara Agung Dewa Sakti di atasnya. Selanjutnya, upacara diteruskan dengan pengasahan gigi putra sang Petinggi yang kemudian diberi makan sirih. Dimulainya Silsilah Raja Kutai Martadipura Setelah itu, pesta Erau dalam cerita rakyat Naga Erau dimulai dengan berbagai macam pertunjukan permainan yang meriah. Para penduduk laki-laki dan perempuan silih berganti menari serta adanya adu binatang untuk hiburan. Beragam makanan dan minuman pun disajikan untuk dinikmati bersama. Pesta itu dilaksanakan hingga tujuh hari tujuh malam dengan tidak putusnya-putusnya. Setelah pesta berakhir, sang Petinggi kemudian membagikan semua bekas bala-balai kepada penduduk yang kurang mampu. Hal yang sama juga dilakukan oleh istri sang Petinggi. Ternyata, pesta Erau itu juga mengundang tamu dari berbagai penjuru negeri karena setelah acara selesai mereka beramai-ramai berpamitan pada sang Petinggi dan Aji. Saat berpamitan, mereka tiada hentinya memuji-muji Aji, “Tak ada seorang pun yang dapat menyamainya, baik wajah tampannya maupun sikapnya yang berwibawa.” Seiring berjalannya waktu, Aji Batara Agung Dewa Sakti tumbuh menjadi seorang laki-laki yang tampan, gagah, cerdas, dan bijaksana. Ia kemudian diangkat menjadi raja pertama dari Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Marta Dipura 1300–1325. Ketika menjadi raja, Aji mempersunting Putri Karang Melenu. Konon ceritanya, Putri Karang Melenu merupakan titisan dari para dewa di kahyangan yang mulanya berwujud ulat kecil. Ia dirawat oleh petinggi di salah satu desa yang berada di pinggir aliran Sungai Mahakam. Tak disangka, ulat kecil yang dirawat itu lama-kelamaan tumbuh menjadi seekor naga yang besar. Melalui mimpi, naga itu menenangkan orangtua angkatnya supaya tidak takut dengannya karena ia tidak memiliki niat jahat. Ia hanya ingin dibuatkan tangga di depan rumah supaya bisa pergi ke Sungai Mahakam. Sang Petinggu kemudian menceritakannya mimpinya pada istrinya dan segera melaksanakan pesan yang ia dapat. Ketika mengerjakan tangga, sang Petinggi mendapatkan wangsit dari seorang putri yang meminta laki-laki itu untuk mengikuti ke mana pun sang Naga merayap. Putri itu juga meminta agar sang Petinggi membakar wijen hitam serta menaburi tubuh sang Naga dengan beras kuning. Latar Belakang Putri Karang Melenu Benar saja, setelah tangganya selesai, sang Naga dalam cerita rakyat Naga Erau dikisahkan segera turun dari rumah panggung orangtua angkatnya dan merayap menuju Sungai Mahakam. Sesampainya di sunga, sang Naga berenang tujuh kali kali berturut-turut ke bagian hulu dan hilir sungai. Sang Petinggi dan istrinya mengikuti pergerakan naga itu dengan menaiki perahu. Lalu, sang Naga menuju Tepian Batu dan berenang ke kiri serta ke kanan tiga kali sebelum akhirnya menyelam ke dalam sungai. Secara bersamaan, terjadilah peristiwa yang tak diduga di mana air sungai bergejolak dan lewatnya angin yang bertiup kencang. Hujan deras turun bersamaan dengan munculnya guntur dan petir di langit. Sang Petinggi bersama istrinya yang masih terkejut dengan apa yang terjadi di sekitar mereka segera mendayung perahu ke tepian untuk menyelamatkan diri. Namun, peristiwa itu ternyata tidak berlangsung lama karena cuaca tiba-tiba menjadi cerah kembali. Meskipun begitu, pasangan suami istri yang ada di tepian sungai bertanya-tanya keberadaan sang Naga. Ketika masih sibuk mencari, mereka kemudian melihat suatu pemandangan yang menakjubkan. Air Sungai Mahakam di mana menjadi tempat sang Naga tenggelam keluar buih-buih. Selain itu, warna sinar pelangi juga menerpa buih-buih dan menampilkan cahaya yang kemilau. Sang Petinggi dengan istrinya mendekati buih-buih itu dan menemukan sebuah gong besar yang di dalamnya terdapat seorang bayi perempuan. Pasangan suami istri itu segera mendayung perahu mereka untuk menyelamatkan bayi itu. Mereka lalu mengambil gong yang berisi bayi itu dan membawanya pulang ke rumah. Kebetulan, mereka memang telah lama ingin memiliki seorang anak. Sang Petinggi dan istrinya merawat bayi perempuan itu seolah-olah seperti anak kandung mereka sendiri. Mereka sangat bahagia karena bisa membesarkan anak yang merupakan titipan dari kahyangan. Pada suatu malam, sang Petinggi menerima wangsit dari para dewa dalam mimpinya untuk memberikan nama kepada bayi perempuan itu setelah tali pusarnya putus. Tiga hari setelah kejadian di Sungai Mahakam, tali pusar bayi perempuan itu putus dan akhirnya ia diberi nama Putri Karang Melenu. Putri yang memiliki paras cantik dan kepribadian yang luhur itu kemudian dinikahi oleh Aji Batara Agung Dewa Sakti dan menjadi permaisuri pertama Kerajaan Kutai Martapura. Dari pernikahan tersebut, lahirlah seorang putra bernama Aji Batara Agung Paduka Nira. Begitulah ulasan cerita rakyat lengkap tentang Naga Erau yang berasal dari Kalimantan Timur. Baca juga Legenda Asal-Usul Cikaputrian, Kisah Putri yang Tamak dari Banten Beserta Ulasan Lengkapnya Unsur Intrinsik Legenda Naga Erau Sumber Wikimedia Commons – Peta Kalimantan Timur Sebelumnya, kamu telah menyimak informasi tentang cerita rakyat dari Kalimantan Timur di atas. Nah, sekarang saatnya kamu mengetahui unsur-unsur intrinsik yang terkandung dalam legenda tersebut 1. Tema Inti atau tema cerita dari kisah Naga Erau adalah tentang keluarga. Dongeng ini menggaris bawahi tentang pasangan suami istri yang dikaruniai oleh anak setelah sekian lama memanjat doa kepada para dewa di kahyangan. 2. Tokoh dan Perwatakan Berdasarkan uraian dari dongeng Naga Erau, terdapat beberapa tokoh yang memiliki peran penting dalam perkembangan ceritanya. Sebut saja sang Petinggi Dusun Jaitan Layar, istri, Aji Batara Agung Dewa Sakti, Putri Karang Melanu, serta sang Petinggi dan istrinya yang membesarkan Putri Karang Melanu. Sang Petinggi Dusun Jaitan Layar dan ayah angkat Putri Karang Melanu adalah dua tokoh yang wataknya hampir sama. Sebut saja patuh terhadap perintah dewa, dipercayai oleh penduduk dusun yang mereka pimpin, dan menjadi mencintai anak angkat mereka dengan setulus hati. Istri sang Petinggi Dusun Jaitan Lyar dan ibu angkat Putri Karang Melanu juga menampilkan karakter yang sama. Mereka sama-sama dua wanita yang sabar dan merasa berterima kasih pada para dewa yang telah menitipkan anak kepada mereka. Sementara itu, Aji Batara Agung Dewa Sakti merupakan laki-laki keturunan dewa yang memiliki karakter bijaksana, berani, dan bertanggung jawab sebagai pemimpin. Untuk Putri Karang Melanu sendiri, ia digambarkan sebagai perempuan yang tidak hanya cantik wajahnya, tapi juga hatinya. 3. Latar Pengambilan lokasi kejadian dalam cerita rakyat Naga Erau berada di beberapa tempat. Sebut saja kamar, rumah panggung, halaman rumah, dan Sungai Mahakam. 4. Alur Kisah legendaris dari Kota Tenggarong di atas memiliki alur campuran, yakni maju dan mundur. Mulanya, dongeng itu menceritakan tentang Aji Batara Agung Dewa Sakti yang merupakan raja pertama dari Kerajaan Kutai Martapura. Konflik terjadi ketika Aji yang ingin bermain tapi tidak diizinkan oleh orangtuanya karena mesti melakukan ritual Tijak Tanah, Mandi ke Tepian, dan Erau. Ketika sudah dewasa, ia kemudian menikah dengan Putri Karang Melenu. Legenda itu diakhiri dengan lahirnya seorang putra bernama Aji Batara Agung Paduka Nira dari pasangan raja dan permaisuri tersebut. Keluarga ini menjadi keluarga kerajaan pertama dari Kerajaan Kutai Martapura. 5. Pesan Moral Amanat atau pesan moral dalam legenda Naga Erau mengajarkan tentang pentingnya sikap untuk bertanggung jawab dan amanah ketika mendapatkan perintah. Selain itu, kisah ini juga menceritakan tentang kesabaran pasangan suami istri yang tak kunjung dikaruniai seorang anak. Meskipun hanyalah dongeng, hadirnya anak laki-laki dan perempuan yang masing-masing diberikan kepada pasangan suami istri pimpinan desa adalah sebagai bentuk perwujudan untuk jangan putus harapan. Bukan hanya itu saja, kisah di atas juga mengajarkan bahwa tidak ada salahnya mengangkat anak apabila memang tidak bisa memiliki anak kandung. Baca juga Kisah Batu Rantai dari Kepulauan Riau yang Sarat Pesan Moral Beserta Ulasan Lengkapnya Fakta Menarik Sumber Instagram – adnan09_ Sebelumnya, kamu sudah menyimak ulasan tentang unsur-unsur intrinsiknya, kan? Nah, berikut ini ada fakta menarik dari cerita rakyat Naga Erau yang tidak boleh kamu lewatkan 1. Kerajaan Hindu Tertua di Indonesia Kerajaan Kutai Martapura merupakan kerajaan hindu tertua di Indonesia yang didirikan oleh Aji Batara Agung Dewa Sakti. Keberadaan kerajaan ini didapatkan dari peninggalan prasasti yupa yang ditemukan di Bukit Brubus, Muara Kaman, Kalimantan Timur. Meskipun awalnya menganut agama Hindu, raja-raja Kerajaan Kutai Martapura menyambut baik adanya penyebaran agama Islam di wilayahnya. Hingga pada akhirnya, kerajaan ini kemudian melebur dengan Kesultanan Kutai Kartanegara yang menganut agama Islam pada tahun 1575. 2. Festival Erau Festival Erau merupakan tradisi peninggalan dari Raja Aji Batara Agung Dewa Sakti yang sering dilaksanakan dalam acara penobatan raja-raja Kerajaan Kutai Kartanegara. Kata erau berasal dari bahasa Kutai, eroh, yang artinya adalah ramai atau riuh. Pelaksanaan tradisi Erau menurut tata cara Kesultanan Kutai Kartanegara terakhir dilakukan pada tahun 1965. Namun, acara ini kemudian dihidupkan kembali pada tahun 1971 untuk merayakan peringatan ulang tahun Kota Tenggarong setiap 2 tahun sekali. Tradisi Erau lalu berkembang menjadi pesta rakyat dan festival budaya yang diramaikan oleh para penduduk dari berbagai daerah Kota Tenggarong. Puncak dari festival ini ditandai dengan acara belimbur atau siram-siraman air antar penduduk. Baca juga Kisah Abu Nawas tentang Pesan Bagi Para Hakim dan Ulasan Menariknya, Pelajaran untuk Selalu Profesional dalam Bekerja Cerita Rakyat Naga Erau yang Memiliki Nilai Historis Demikian rangkuman dari legenda naga yang ada di Sungai Mahakam. Dari kisah tersebut, kamu dapat menyimpulkan bahwa Erau merupakan tradisi yang memiliki sejarah panjang di Kalimantan Timur. Kamu bisa menjadikan cerita rakyat tersebut sebagai dongeng pengantar tidur. Atau, kisah awal mula raja Kerajaan Kutai Martadipura itu juga bisa kamu sampaikan untuk menghibur para keponakan dalam acara kumpul keluarga. Selain kisah ini, masih banyak legenda ataupun dongeng lain yang dapat kamu jumpai di PosKata. Beberapa di antaranya adalah cerita rakyat Nenek Luhu, kisah Pak Lebai, dan legenda Nyi Roro Kidul. Selamat membaca! PenulisAulia DianPenulis yang suka membahas makeup dan entertainment. Lulusan Sastra Inggris dari Universitas Brawijaya ini sedang berusaha mewujudkan mimpi untuk bisa menguasai lebih dari tiga bahasa. EditorKhonita FitriSeorang penulis dan editor lulusan Universitas Diponegoro jurusan Bahasa Inggris. Passion terbesarnya adalah mempelajari berbagai bahasa asing. Selain bahasa, ambivert yang memiliki prinsip hidup "When there is a will, there's a way" untuk menikmati "hidangan" yang disuguhkan kehidupan ini juga menyukai musik instrumental, buku, genre thriller, dan misteri. Viewnaga masuk ECE MISC at Harrisburg University Of Science And Technology Hi. Alue Naga Cerita Rakyat Alue Naga Zaman dahulu kala seseorang yang bernama Sultan Meurah

Cerita Rakyat Alue Naga, RiauImage Meurah mendengar rakyatnya mengeluh karena banyak hewan ternak mereka hilangdi Bukit Lamyong. Juga, belakangan gempa kerap terjadi tanpa ada Meurah kemudian memerintahkan sahabatnya, Renggali, putra Raja Linge, untukmenyelidiki bukit itu. Renggali pun melaksanakan tugas tersebut. Setelah menelusuri seluruhbukit, ia merasakan ada yang aneh pada bukit tersebut. Ia lalu menaiki bagian tertinggi daribukit, dan tiba-tiba merasakan kemunculan air hangat di permukaan tanah yang ia injak. Iakaget lalu turun sambil datang suara permintaan maaf entah dari mana. Renggali mencari asal suara, danmenemukan itu berasal dari bukit yang ia pijak yang ternyata adalah seekor naga. Si NagaHijau memperkenalkan diri dan mengatakan bahwa ia adalah sahabat dari ayahnya. Selamaini Raja Linge hilang, dan ia terakhir kali diketahui bersama dengan Si Naga Hijau. KetikaRenggali bertanya di mana ayahnya, naga meminta Renggali untuk memanggilkan SultanAlam. IklanRenggali kembali ke istana dan menceritakan kejadian tersebut kepada Sultan Meurah. SultanMerah pun setuju menemui naga di bukit. Sesampainya di sana si naga menceritakan kejadianyang sebenarnya, bahwa ia membunuh Raja Linge dan jasad sang raja ada di bawahtubuhnya. Saat itu naga tidak bisa menggerakkan tubuhnya karena ada pedang Raja Lingeyang terhunus di tidak mau menghukum Naga Hijau. Ia lalu menarik pedang yang terhunus di tubuhnaga dan meminta si naga kembali ke kampung halamannya. Pada bukit’ bekas tubuh nagaterbentuknya sebuah sungai kecil yang dipenuhi rawa-rawa dengan genangan air. SultanMeurah memberi nama wilayah tersebut Alue Naga.

AlueNaga adalah cerita rakyat Riau yang menceritakan sebuah tempat dimana terdapat seekor naga yang kepalanya tertusuk pedang. Naga tersebut diselamatkan oleh seorang raja dan pangeran. Menangis kesakitan, ketika diselamatkan, naga pun menggeser tubuhnya menuju laut secara perlahat.
Uploaded byhilminato 0% found this document useful 0 votes227 views1 pageDescriptionAlue nagaCopyright© © All Rights ReservedAvailable FormatsDOCX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?Is this content inappropriate?Report this Document0% found this document useful 0 votes227 views1 pageCerita Rakyat Alue NagaUploaded byhilminato DescriptionAlue nagaFull descriptionJump to Page You are on page 1of 1Search inside document Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel the full document with a free trial!Continue Reading with Trial
TKSGQZ6.
  • 3eage415qc.pages.dev/462
  • 3eage415qc.pages.dev/49
  • 3eage415qc.pages.dev/236
  • 3eage415qc.pages.dev/168
  • 3eage415qc.pages.dev/344
  • 3eage415qc.pages.dev/161
  • 3eage415qc.pages.dev/465
  • 3eage415qc.pages.dev/108
  • cerita rakyat alue naga